Budaya

Beberapa Tradisi Menyambut Pergantian Tahun Hijriah, di Inhil ada Bubur Asyura

bubur asyura.1
Tradisi membuat bubur Asyura yang dimasak bergotong royong sebagai ungkapan suka cita masyarakat Inhil menyambut datangnya bulan Muharam.Credit Foto: (hudaseipinggan.wordpress.com)

PERGANTIAN tahun biasanya menjadi momentum bagi banyak orang diseluruh penjuru dunia untuk merenungkan kembali perjalanan kehidupan di tahun yang akan berlalu. Umumnya moment pergantian tahun diisi dengan berbagai kegiatan. Kegiatan tersebut biasanya bertujuan introspeksi diri dan harapan-harapan di tahun berikut.

Pergantian tahun masehi lebih dikenal secara universal. Hampir seluruh masyarakat di penjuru dunia, bahkan negara ikut merayakan moment pergantian tahun yang diisi dengan berbagai acara. Di Indonesia yang mayoritas muslim, pergantian tahun hijriah juga diperingati oleh sebagian umat muslim dengan tak kalah menariknya.

Acara pergantian tahun yang dilakukan sebagian masyarakat muslim Indonesia bukanlah ritual keagamaan, tetapi bagian kekayaan khasanah tradisi budaya nusantara. Tradisi meyongsong datangnya bulan Muharam ini tentu patut kita lestarikan. Selain terdapat nilai-nilai luhur di dalamnya, acara pergantian tahun hijiriah juga menjadi sarana memperkuat Ukhuwah Islamiyah (Persaudaraan Islam).

Menjelang datangnya bulan Muharam 1438 H, Riauposting.com menukilkan beberapa tradisi menyambut Muharam di Indonesia:

  1. Lampah Mubeng, Yogyakarta

Provinsi Daerah Istimewa (DI) Di Yogyakarta sangat terkenal merayakan pergantian tahun baru hijriah. Menyambut malam 1 Muharram yang lazim disebut malam 1 Suro biasanya selalu diisi oleh berbagai ritual tradisi. Salah satunya adalah ritual “Lampah Mubeng”. Ritual ini memiliki nama lain “Mubeng Beteng”.

Inti dari ritual ini adalah berkeliling kompleks Keraton pada malam hari. Jarak yang ditempuh ialah sekitar 7 km. Waktu tempuhnya kira-kira 1,5 jam. Ritual Lampah Mubeng merupakan perwujudan dari perenungan agar selalu intropeksi diri. Karena itulah, dalam mengikuti ritual ini, orang dilarang berkomunikasi hingga akhir.

Maknanya, dengan semakin sedikit berbicara, diri sendiri akan menjadi lebih waspada dari tindakan-tindakan yang bisa menyakiti orang lain. Selain itu, ritual ini juga akan membuat manusia senantiasa ingat kepada Tuhan.

Menariknya, saat ritual berlangsung keraton dibuka untuk umum sehingga siapa saja boleh menyaksikan. Bahkan, tak jarang wisatawan lokal dan turis asing ikut serta memutari kompleks Keraton sepanjang malam.

  1. Bubur Suro, Jawa Barat

Tradisi bubur suro merupakan salah satu cara yang dilakukan masyarakat Jawa Barat untuk menyambut datangnya bulan Muharram. Tradisi ini juga sekaligus mengenang wafatnya cucu Nabi Muhammad SAW di medan peperangan. Masyarakat yang merayakan khususnya berasal dari daerah Tasikmalaya dan Limbangan, Garut.

Pada pagi hari setiap tanggal sepuluh Muharram, hampir setiap rumah penduduk memasak bubur merah dan bubur putih secara terpisah dan dikenal dengan sebutan bubur suro. Selanjutnya, bubur suro akan dibawa ke masjid bersama dengan beragam makanan ringan lainnya.

Penduduk-penduduk yang mengikuti acara di masjid akan duduk membentuk lingkaran dan acara tersebut akan dipimpin oleh yang dituakan atau imam masjid akan memimpin acara tersebut.

  1. Tradisi Tabot di Bengkulu dan Tabuik di Pariaman, Sumatra Barat

Di Bengkulu dan Pariaman hampir memiliki kesamaan dalam merayakan pergantian tahun hijriah. Kalau di Bengkulu upacara tradisionalnya disebut Tabot, di Pariaman Tradisi ini disebut Tabuik.  Perayaan hari Asyura di kedua daerah itu sudah ditetapkan menjadi agenda pariwisata tahunan yang menyedot banyak pengunjung.

Kata ‘Tabot’ / ‘Tabuik’ dari kata ‘Tabut’ yang berarti kotak kayu atau peti. Saat itu, pengikut Husein mengumpulkan potongan tubuh Husein yang terbunuh dalam perang, memasukannya ke dalam peti, mengarak, dan memakamkannya di Karbala. Dari sinilah istilah Tabut (peti) berasal.

Tujuan dari perayaan tabut juga tak lain adalah untuk menghormati perjuangan Husein bin Ali yang gugur dalam peperangan. Selain itu, tradisi tabot/tabuik bertujuan mewujudkan partisipasi rakyat di masing-masing daerah untuk tetap membina hubungan yang harmonis dan melestarikan budaya daerahnya.

  1. Kirab Pusaka, Solo

Tepat perayaan malam 1 Suro, Keraton dan warga di Solo juga menggelar Kirab Pusaka. Uniknya, Kirab Pusaka ini bukan hanya diiringi oleh para abdi dalem. Kirab ini juga diiringi oleh enam ekor kerbau istimewa.

Kerbau-kerbau tersebut dianggap istimewa karena beberapa hal. Pertama, kerbau-kerbau tersebut berwarna putih (albino). Kedua, mereka dipercaya sebagai keturunan Kyai Slamet. Ketiga, mereka termasuk pusaka Keraton Surakarta yang wajib dijaga.

Tradisi ini juga telah menjadi agenda pariwisata budaya yang menarik minat banyak wisatawan mancanegara dan domestik. Disamping itu tradisi tersebut adalah kegiatan pelestarian budaya oleh pemerintah setempat.

  1. Bubur Asyura Inhil, Riau

Tradisi ‘bubur suro’ tidak hanya dikenal oleh masyarakat Jawa Barat dalam menyambut datangnya bulan Muharram.  Masyarakat  di Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau juga punya tradisi bernama bubur Asyura untuk menyambut Muharram.

Bubur yang diolah dari beberapa bahan dan dicampur menjadi satu dikerjakan bergotong royong. Setelah masak lalu dimakan bersama-sama dengan terlebih dahulu dibacakan doa selamat. Tujuannya menjaga hubungan silaturahim dan untuk memupuk rasa saling peduli antar sesama.

Dari cerita turun temurun, munculnya bubur Asyura terjadi di tengah berlangsungnya perang Tabuk yang berlangsung pada bulan Muharram.

Dijelaskannya, saat perang Tabuk terjadi krisis makanan. Sehingga Nabi Muhammad SAW meminta bahan makanan yang ada diolah menjadi bubur. Namun, bubur yang telah dimasak itu tidak cukup bagi prajurit yang ikut berperang. Akhirnya, Nabi membuat kebijakan, beliau sendiri yang membagikan bubur itu sehingga seluruh orang yang ada kebagian.

Konon bubur itu pertama kali dibuat pada tanggal 10 Muharram yang juga disebut hari Asyura, maka disebutlah bubur ini sebagai bubur Asyura.

Mungkin masih banyak lagi tradisi budaya masyarakat muslim Indonesia dalam menyambut tahun baru hijriah. Meskipun tidak terdapat ketentuannya dalam al Quran, semoga perayaan menyambut datangnya tahun baru hijriah bukan hanya sekedar perayaan tanpa makna, melainkan menjadi sarana untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa dan memperkuat jalinan silaturahim antar umat.

Apa tanggapan Anda?

argumen pembaca

Klik untuk berkomentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas