Budaya

4 Tradisi Masyarakat Melayu Riau dalam Menyambut Bulan Puasa

mandi balimau
mandi balimau

Ilustrasi : Mandi Baliamau, menyambut datangnya bulan puasa (Foto: 3.bp.blogspot.com)

MASUKNYA hari pertama puasa tinggal menghitung jam. Meski belum ditetapkan secara resmi oleh pemerintah melalui kementerian agama, dalam perhitungan kalender masehi awal puasa tahun 2015  dimulai pada tanggal 18 Juni.

Suasana menyambut datangnya bulan puasa sudah terasa begitu kental, apalagi Indonesia sebagai negara dengan pemeluk agama Islam terbesar di dunia, penuh suka cita menyambut kehadiran  bulan suci tersebut.

Sebagai negara yang terdiri dari berbagai suku bangsa dan kaya akan budaya nusantara, masyarakat muslim di Indonesia punya tradisi tersendiri untuk menyambut datangnya bulan suci tersebut. Meski tata cara tradisi menyambut bulan puasa beragam, namun semangatnya tetap sama, yakni sebagai bentuk ucap syukur serta kegembiraan umat muslim akan datangnya bulan puasa.

Dari beragam tradisi nusantara dalam menyambut puasa, berikut Riauposting.com sarikan 4 tradisi masyarakat Melayu Riau dalam menyambut datangnya bulan puasa :

  1. Petang Megang, Pekanbaru

Tradisi di Pekanbaru ini memiliki arti yang sesuai dengan namanya. Kata Petang di sini berarti petang hari atau sore hari, sesuai dengan waktu dilaksanakan tradisi ini yang memang dilaksanakan pada sore hari. Sedangkan Megang disini berarti memegang sesuatu yang juga dapat diartikan memulai sesuatu. Hal ini sesuai dengan waktu diadakan tradisi ini yaitu sebelum Ramadhan dan ingin memulai sesuatu yang baik dan suci yaitu puasa.

Tradisi Petang Megang dilaksanakan di Sungai Siak. Hal ini mengacu pada leluhur suku Melayu di Pekanbaru yang memang berasal dari Siak. Tradisi ini diawali dengan ziarah ke berbagai makam pemuka agama dan tokoh-tokoh penting Riau. Ziarah dilakukan setelah sholat Dzuhur. Lalu dilanjutkan dengan ziarah utamanya yaitu ziarah ke makam Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah, yang juga dikenal dengan nama Marhum Pekan. Beliau merupakan sultan kelima Kerajaan Siak Sri Indrapura (1780-1782 M) dan juga pendiri kota Pekanbaru.

  1. Mandi Balimau Kasai, Kampar

Balimau Kasai adalah sebuah upacara tradisional yang istimewa bagi masyarakat Kampar di Provinsi Riau untuk menyambut bulan suci Ramadan. Acara ini biasanya dilaksanakan sehari menjelang masuknya bulan puasa. Upacara tradisional ini selain sebagai ungkapan rasa syukur dan kegembiraan memasuki bulan puasa, juga merupakan simbol penyucian dan pembersihan diri. Balimau sendiri bermakna mandi dengan menggunakan air yang dicampur jeruk yang oleh masyarakat setempat disebut limau. Jeruk yang biasa digunakan adalah jeruk purut, jeruk nipis, dan jeruk kapas.

Sedangkan kasai adalah wangi- wangian yang dipakai saat berkeramas. Bagi masyarakat Kampar, pengharum rambut ini (kasai) dipercayai dapat mengusir segala macam rasa dengki yang ada dalam kepala, sebelum memasuki bulan puasa.

  1. Jalur pacu, Kuantan Singingi

Di Kabupaten Kuantan Singingi, Riau, masyarakatnya memiliki tradisi yang mirip dengan lomba dayung. Tradisi “Jalur Pacu” ini digelar di sungai-sungai di Riau dengan menggunakan perahu tradisional, seluruh masyarakat akan tumpah ruah jadi satu menyambut acara tersebut.

Tradisi yang hanya digelar setahun sekali ini akan ditutup dengan “Balimau Kasai” atau bersuci menjelang matahari terbenam hingga malam.

  1. Tahlil Jamak/ Kenduri Ruwah, Kepulauan Riau

Warga Pulau Penyengat, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau, punya tradisi khas menyambul datangnya bulan puasa, yaitu menggelar Tahlil Jamak atau Kenduri Ruwah. Tahlil Jamak itu berupa zikir serta berdoa untuk para arwah orang tua atau sesama muslim. Selain doa, juga dilaksanakan kenduri dengan sajian menu kenduri yang bersumber dari sumbangan sukarela warga.

Tradisi tersebut disatukan sejak berdirinya Masjid Penyengat. Bahkan, sampai saat ini, Kenduri Ruwah masih dilakukan secara berjemaah di masjid tersebut.

Tentu masih banyak lagi tradisi masyarakat melayu Riau dalam menyambut datangnya bulan puasa, dan sudah sepatutnya tradisi budaya sebagai bentuk suka cita dan memuliakan datangnya bulan suci ini terus kita lestarikan sepanjang masa, khususnya kepada generasi muda agar tidak musnah tergerus zaman.

Apa tanggapan Anda?

argumen pembaca

Klik untuk berkomentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas