Dumai

Kakek 67 Tahun Diperlakukan Kasar oleh Satpam Komplek Pertamina UP II Dumai

efendy sidauruk jpg
efendy sidauruk jpg

Efendy Sidauruk (67), kakek yang mendapat perlakuan kasar oleh satpam komplek Pertamina UP II Dumai, kini mengalami trauma. Foto : Riauposting.com

DUMAI – Perlakuan tidak manusiawi diterima oleh seorang kakek berumur 67 tahun, bernama Efendy Sidauruk yang dilakukan oleh Satpam Pertamina, komplek Pertamina UP II PT. Pertamina (Persero) kota Dumai. Peristiwa itu terjadi pada Senin pagi (14/9/2015), sekitar pukul 6:30 WIB saat kakek tersebut memasuki Jalan Raya Bukit Datuk komplek Pertamina UP II dari arah  Jalan Bukit Timah.

Setelah melewati pos Satpam terakhir, tanpa diketahuinya kakek tersebut menyalip sebuah mobil yang kemudian baru diketahuinya kalau mobil tersebut adalah mobil milik General Manager (GM) Pertamina UP II Dumai.

Akibat memotong mobil GM Pertamina, Efendy langsung dikejar dan diamankan oleh para Satpam yang menganggap kakek tersebut telah melakukan kesalahan fatal di area itu. Efendy ditangkap dengan kasar karena dianggap ingin menghindar dari kejaran satpam. Berdasarkan perintah Kepala Sekuriti yang bernama Ch, Efendy harus diberi pelajaran agar patuh dengan aturan Pertamina.

Menurut penuturan Efendy Sidauruk, begitu ditangkap dirinya langsung dikerubungi oleh anggota Satpam lainnya, sambil diseret paksa ke pos Satpam.

Ry, komandan regu (Danru) satpam yang saat itu bertugas langsung menghardik Efendy dan berlagak seolah-olah aparat penegak hukum sambil berkata, “kamu tau tidak kesalahan kamu, kamu sudah melanggar aturan!” sambil menahan motor dan merampas paksa kunci sepeda motor milik Efendy.

Lelaki yang terbilang berusia lanjut itu langsung gemetar mendapat perlakuan kasar dari Satpam dan menjelaskan kepada Satpam dirinya terburu-buru karena mengejar akan mengantar cucunya berangkat ke sekolah, sambil bertanya,”saya melanggar aturan apa?”

Atas pertanyaan Efendy, spontan membuat seorang Satpam yang tidak diketahui Efendy namanya melontarkan kalimat makian yang tak pantas diucapkan baik secara etika, moral dan kepantasan perlakuan terhadap orang tua, tanpa menjelaskan secara jelas aturan apa yang telah dilanggarnya.

Ketika di lepas, Efendy mendapat ancaman tidak boleh lagi melintas kawasan tersebut,  kalau tidak akan langsung  mereka tangkap karena motor dan orangnya sudah ditandai.

Intimidasi itu membuat Efendy mengalami trauma mendalam yang kemudian direspon keras oleh anggota keluarganya. Beberapa saat kemudian Freddy, anak Efendy melakukan klarifikasi kepada satpam dan GM Pertamina atas kejadian yang menimpa orangtuanya.

Ketika dikonfirmasi oleh Freddy, satpam pelaku tindak intimidasi tersebut mengatakan bahwa orangtua Freddy telah bersalah melanggar aturan karena berani mendahului kendaraan karyawan pertamina yang menjabat sebagai GM.

Kepada Riauposting.com melalui pembicaraan lewat telepon, Rabu (16/9/2015), Freddy menyesalkan sikap arogan pihak Pertamina terkait masalah itu, karena mereka merasa tindakan yang mereka lakukan sudah tepat, tanpa melihat unsur kepatutan, adab dan kemanusiaan dalam pelaksanaan aturannya.

“Saya bekerja sebagai tim perumus kebijakan pemko Dumai. Sebagai orang yang berkutat di kajian kebijakan pemerintah, tentu saya sangat paham dan mengerti dengan aturan hukum, karena kebijakan pemerintah tidak terlepas dari yang namanya aturan hukum.

Ketika saya konfrontir ke pihak mereka (satpam dan GM Pertamina-red), mereka hanya bersikeras bahwa orang tua saya telah melanggar aturan tanpa menjelaskan secara spesifik, aturan apa yang telah dilanggar, dan apa landasan hukum yang jadi acuan aturan mereka?

Padahal tindakan yang dilakukan satpam Pertamina sudah melampaui fungsi mereka sebagai satuan tugas pengamanan, misalnya menahan motor orang tua saya, karena yang berhak menahan kendaraan berdasarkan UULAJ no 22 thn 2009 ada pada pihak kepolisian, selain itu yang berhak menetapkan rambu-rambu lalu-lintas pada jalan dan kawasan tertentu ada pada pemerintah melaui Dinas Perhubungan.

Apalagi sampai menginterogasi orang tua saya, seolah-olah mereka aparat kepolisian yang sedang menyidik seorang tersangka pelaku kriminal. Inikan gawat, bisa-bisa nanti mobil walikota yang memotong kendaraan GM mereka akan mendapat perlakuan yang sama seperti yang dialami orang tua saya. Kok kesannya mereka lebih berkuasa dari pemerintah?”, ucap Freddy.

Dikesempatan terpisah, pihak Pertamina UP II Dumai melalui GM-nya, Afdal Martha yang dikonfirmasi Riauposting.com melalui pesan SMS membantah kronologis peristiwa yang dilakukan oleh satpam Pertamina yang bertugas di komplek Pertamina UP II Dumai.

“Tidak benar demikian Pak. Hanya mengingatkan dan memberi tahu untuk patuh dan  megikuti aturan berlalu lintas yang ada,” katanya.

Menurut Afdal hal ini hanya terkait bagaimana kita harusnya tertib dalam berlalu-lintas dengan mematuhi aturan / rambu lalu-lintas yang ada.

Atas peristiwa yang dialami oleh orang tuanya, Freddy selaku anak akan meneruskan kasus ini ke jajaran Pertamina pusat dan akan membawanya ke ranah hukum sesuai aturan yang berlaku.

Apa tanggapan Anda?

argumen pembaca

Klik untuk berkomentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas