Editorial

Warga Riau, Habis Asap Bersiaplah ke Bencana Berikut Ini

Hujan angin disertai petir terjadi di Pekanbaru, Selasa petang (27/10/2015).
Warga Riau diminta untuk bersiap-siap menghadapi bencana berikutnya yakni banjir yang akan terjadi di saat intensitas curah hujan sudah tinggi,

HUJAN mulai turun mengguyur sejumlah wilayah di Riau dan beberapa daerah lainnya yang terkena musibah kabut asap berbulan-bulan. Hujan memang tak merata, namun setidaknya sudah bisa jadi pertanda bahwa asap sudah tidak akan lama.

Turunnya hujan menjadi jawaban bahwa doa dan pertolongan Allah menjadi sesuatu yang pasti mampu menyelesai kabut asap dengan biaya sangat murah. Terbukti pula, uang negara dalam jumlah besar yang dipergunakan untuk menanggulangi kabut asap, baik melalui upaya pemadaman maupun rekayasa cuaca tak mampu berbuat apa-apa. Hujan tak kunjung turun juga, asap tetap saja merajalela.

Hujan yang turun dengan intensitas yang mulai terlihat meningkat, memberi isyarat bahwa bencana kabut asap akan segera berlalu. Isyarat pula agar kita warga Riau bersiap menghadapi bencana berikutnya. Banjir. Itulah prediksi bencana tahunan lainnya yang menjadi langganan di Riau ketika intensitas hujan tinggi.

Walaupun belum bisa diprediksi sampai kapan asap benar-benar berlalu dari bumi Riau, namun tanda-tanda alam mengisyaratkan bahwa musim asap akan segera pergi. Beberapa wilayah di Riau seperti Kota Pekanbaru ibukota Provinsi Riau, dua hari terakhir terlihat lebih cerah. Lebih cerah dari hari-hari lain di beberapa bulan sebelumnya. Ini terjadi karena sejumlah wilayah di Pekanbaru sudah beberapa kali diguyur hujan dengan durasi yang lebih lama.

Ungkapan syukur terlihat nyata dari warga Riau. Rasa syukur itu tak sekadar kata-kata. Di media sosial ungkapan syukur itu ditulis dengan berbagai versi dan kemudian dibagi-bagi. Terlihat nyata kegembiraan akan datangnya pertolongan Ilahi terhadap makhluk di bumi ini yang tak lagi kuasa mengusir asap yang disebut-sebut sebagai azab itu.

Dengan sudah meningkatnya intensitas curah hujan, maka menjadi iktibar bagi kita semua bahwa pertanda akan datang musim hujan dan berdampak terjadinya banjir. Akan halnya kabut asap, banjir merupakan bencana tahunan yang bisa diprediksi.

Bahkan, di kalangan awam, musim hujan itu akan datang di bulan-bulan yang ada ber-nya; September, Oktober, November, dan Desember). Di bulan-bulan inilah rawan terjadinya banjir yang tak jarang juga menelan korban nyawa dan harta benda.

Sesuai pertanda alam dan melihat pula pertanda bulan berakhiran “ber” sebagaimana penanda yang dipakai orang-orang tua terdahulu, saat banjir itu sudah di depan mata. Saatnya kita bersiap untuk menghadapinya.

Warga Riau yang selama ini tinggal di pinggir-pinggir sungai yang selalu terancam setiap banjir menghadang, saatnya membuat keputusan tetap bertahan dengan berbagai persiapan dan antisipasi segala kemungkinan, atau memilih pindah ke tempat yang dinilai lebih aman.

Untuk seluruh warga Riau, kemarau panjang disertai kabut asap telah membuat kita sering menatap langit melihat masih adakah awan biru sehingga membuat kita sedikit lupa menatap bumi yang di bawahnya ada saluran parit, drainase atau saluran air lainnya yang sekarang kering kerontang dipenuhi sampah.

Selama ini –mungkin—kita cuai dan lalai sehingga tanpa sadar membiarkan parit-parit dan saluran drainase dipenuhi sampah. Sehingga di saat hujan turun dengan intensitas tinggi akan dengan mudah mengundang terjadinya banjir karena sampah-sampah menutupi saluran pembuangan.

Bagi warga Riau, saatnya sekarang menatap ke bawah melihat parit-parit di pekarangan rumah atau saluran drainase di sekitar kita. Mari pastikan dalam kondisi bersih dan lancar agar di saat hujan turun dengan intensitas tinggi, sudah tidak ada masalah. Jangan sampai saluran air di sekitar kita tidak lancar dan tak jelas arah pembuangannya karena inilah yang nanti akan menjadi punca masalahnya.

Pemerintah daerah, bersiaplah berpindah masalah. Di saat asap nantinya terselesaikan walaupun dengan bantuan Yang Maha Kuasa akhirnya, bukan berarti persoalan selesai. Tugas berat berikutnya menunggu, yakni menghadapi hadangan banjir khususnya di daerah-daerah yang selama ini menjadi titik rawan bencana banjir.

Badan Penanggulangan Bencana Nasional maupun Daerah sudah seharusnya melakukan pemetaan dari sekarang dan mempersiapkan berbagai scenario mengantisipasi berbagai kemungkinan. Siapkan anggaran, siapkan peralatan, siapkan personel, edukasi masyarakat di titik rawan.

Di luar semua itu, upaya terpenting; mari berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar negeri ini terhindar dari bencana dan azabnya karena bagaimana juga kita harus sadar sudah terlalu banyak dosa yang membuat-Nya murka kepada kita. Akhirnya, mari bersiap dan bersiaplah untuk pindah dan menghadapi bencana berikutnya.

Apa tanggapan Anda?

argumen pembaca

Klik untuk berkomentar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas