Editorial

Potret Buram Kongres HMI di Pekanbaru, Diawali Rusuh Ditutup Pemukulan Wartawan

kongres HMI di Pekanbaru

KONGRES Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di Kota Pekanbaru bagi masyarakat Riau tak banyak bermakna selain  menyisakan kesan miring yang mencoreng harkat dan martabat masyarakat Riau. Betapa tidak, sejak sebelum dimulainya kongres, peserta kongres dari Makassar -terlepas itu disebut rombongan liar– telah mengacak-acak marwah masyarakat Riau dengan memblokir Jalan Jendral Sudirman yang jelas menjadi akses utama masyarakat di ibukota Provinsi Riau ini.

Belum hilang kemarahan atas ulah tak beretika ini, tersiar pula kabar bahwa rombongan peserta kongres HMI membuat ulah di Inhu dengan cara makan di Rumah Makan Umega, namun menolak membayar. Tak tanggung-tanggung, tagihan makannya mencapai Rp12 juta, belum lagi kerugian yang dialami pemilik warung di sekitar.

Seiring perjalanan waktu, heboh lagi aksi pengrusakan fasilitas yang ada di Gelanggang Remaja yang dibangun masa pemerintahan Gubri HM Rusli Zainal itu. Kursi, meja dan lainnya dirusak sebagai luapan kemarahan yang tak jelas tujuannya. Tak tanggung-tanggung, kerugian ditaksir mencapai ratusan juta rupiah dan belum jelas siapa yang akan bertanggung jawab mengganti, Akankah ini akan menjadi beban APBD Riau lagi.

Di tengah kongres HMI berlangsung, sunyi tengah malam di Pekanbaru pecah karena salah seorang mahasiswa Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau terkapar terkena sumpit di bagian punggungnya dan harus dilarikan ke rumah sakit Eka Hospital untuk mendapatkan perawatan medis.

Tentu saja, aksi mahasiswa yang terus membuat aksi onar di Pekanbaru ini membuat aparat kepolisian harus mengambil tindakan tegas. Apalagi, berbagai pendekatan yang dilakukan seperti tak diindahkan. Kasatlantas Polresta Pekanbaru yang berniat baik memberikan nasi bungkus untuk rombongan peserta kongres asal Makkasar saja justru dirusak dengan alasan jatah nasi bungkus yang diberikan kurang.

Aparat kepolisian dibantu satuan dari Tentara Nasional Indonesia melakukan sweeping di arena kongres. Hasilnya mengejutkan. Aparat menemukan senjata rakitan, parang, badik, sumpit, linggis dan bahkan cangkul. Sehingga, banyak masyarakar yang berkomentar bahwa ini bukan lagi kongres tapi perang. Atas temuan ini, berbagai pernyataan tegas pun muncul agar mahasiswa pembuat onar ini diusir saja dan disuruh pulang.

“Kalau tidak bisa diatur dan membuat onar saja di sini, itu bukan mahasiswa namanya. Usir saja pulang karena sudah mencoreng marwah masyarakat Riau dan khususnya mencoreng nama baik mahasiswa Indonesia,” tegas Kriminolog Universitas Islam Riau (UIR) Dr Syahrul Akmal Latif MSi beberapa waktu lalu.

Askar Theking yang sebenarnya organisasi supporter PSPS Pekanbaru bersama gabungan BEM di Riau, tak terima daerahnya diacak-acak tamu. Ratusan massa Askar Theking pun bergerak melakukan razia. Target mereka Gelanggang Remaja mencari mahasiswa perusuh yang sudah beberapa hari mengotori ketenangan masyarakat di Pekanbaru. Untung saja, aksi ini tidak berlangsung mulus karena dihadang aparat kepolisian yang berjaga di Gelanggang Remaja sehingga tidak sempat terjadi bentrok fisik.

Askar Theing juga melakukan sweeping ke hotel tempat paniti menginap meminta pertanggungjawaban atas semua peristiwa yang terjadi sejak sebelum dimulainya kongres HMI hingga kongres ini berlangsung. Saat sweeping ini, sempat terjadi keributan kecil antara massa Askar Theking dan panitia.

Terbaru, di saat kongres akan memasuki masa akhir, insiden pun menimpa insan jurnalis yang sejak awal peliputan kongres sering mendapatkan perlakuan tidak baik dari berbagai pihak, baik panitia maupun aparat keamanan. Puncaknya, Sabtu (5/12/2015). Seorang jurnalis media online di Riau, Zuhdy Febriyanto, menjadi korban pengeroyokan sejumlah oknum polisi pengaman kongres.

Kepalanya bocor dan mengeluarkan banyak darah sehingga harus dilarikan ke rumah sakit. Bahkan, Zuhdy harus menjalani rawat inap di salah satu rumah sakit di Pekanbaru.

Awal petaka yang menimpa Zuhdy terjadi ketika dirinya melihat sejumlah oknum polisi menangkap dua orang di luar area kongres. Dua orang ini dianggap penyusup dan langsung digiring ke halaman Gelanggang Remaja di Jalan Sudirman.

Zuhdy pun berniat mendokumentasikan peristiwa tersebut bersama rekan jurnalis lainnya. Mengetahui hal ini, oknum polisi yang ada di lokasi marah-marah dan mengintimidasi para jurnalis peliput sambil meminta paksa kamera yang sudah mengabadikan peristwa tersebut.

Karena Zuhdy menolak, dirinya langsung menjadi sasaran amukan oknum polisi. Zuhdy pun akhirnya dianiaya dan mengalami pendarahan di bagian kepala dan harus dirawat di rumah sakit.

Dengan berbagai rentetan peristiwa buruk ini, apa pun keputusan yang dihasilkan dari kongres ini, bagi sebagian besar masyarakat Riau khususnya Pekanbaru, kongres HMI ini tak lagi memberi makna selain meninggalkan kesan luka, dan pencederaaan nilai-nilai etika dan budaya di Bumi Melayu Negeri Lancang Kuning ini.

Apa tanggapan Anda?

argumen pembaca

Klik untuk berkomentar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas