Ekonomi

Ketika Gaji Bermasalah, Motor Ditarik Dealer, Menumpang ke Mertua

Pemutusan hubungan kerja

PEKANBARU-Hantaman krisis ekonomi yang dialami sejumlah badan usaha, berdampak pada pendapatan para karyawan di Bumi Lancang Kuning Provinsi Riau. Sejumlah perusahaan terpaksa menunda pembayaran gaji karyawan karena ketidakmampuan keuangan perusahaan membayar gaji karyawan sebagai buntut menurunnya pendapatan.

Persoalannya menjadi multiplier efek. Di saat gaji sudah tidak lancar dan lebih dari satu bulan tidak dibayar, karyawan yang umumnya mengandalkan gaji yang diterima setiap bulan, otomatis menghadapi masalah. Krisis pun terjadi di banyak hal. Selain kesulitan mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan pokok, berbagai harta yang dimiliki seperti rumah dan kendaraan yang menjadi sarana vital penunjang pekerjaan juga ikut membebani.

Sudah menjadi rahasia umum, banyak karyawan yang memiliki rumah dan kendaraan dengan cara kredit yang pembayarannya dicicil dari uang gaji yang diterima setiap bulan. Selama pembayaran gaji lancar dari perusahaan, selama itu pula angsuran rumah dan kendaraan tak bermasalah. Namun, di saat gaji yang menjadi nadi semuanya sudah tersendat, di saat itu pula serta-merta ikut bermasalah.

Untuk mengetahui seberapa jauh dampak yang ditimbulkan dari krisis ekonomi yang melanda negeri ini, Riauposting.com sengaja menurunkan laporan hasil wawancara dengan sejumlah karyawan dari berbagai perusahaan yang terimbas krisis.

Nurleli, salah seorang customer service di salah satu perusahaan properti di Pekanbaru mengaku sudah dua bulan tidak menerima gaji dari perusahaannya. Wanita yang sudah tiga tahun bekerja ini mengaku bahwa selama ini gaji dari perusahaan lancar saja. Bahkan, berbagai bonus dari penjualan sering ia terima. Namun, dua bulan terakhir kondisinya memburuk, dan perusahaan belum membayar gajinya.

Yang menjadi masalah, tambah Leli, dirinya masih punya tunggakan di bank yang pembayarannya dipotong dari gaji yang ia terima.

“Kemarin orang bank sudah datang ke rumah menyampaikan pemberitahuan tunggakan dua bulan. Jika bulan depan tak dibayar, maka rumahnya akan dilelang,”  ungkap Nurleli.

Untuk menyiasati pelelangan yang dilakukan bank, Nurleli mengaku harus berutang ke pihak lain, karena meminjam ke perusahaan tempatnya bekerja juga sudah tidak bisa karena ketiadaan dana tunai.

“Apa boleh buat, daripada rumah dilelang, ya diupayakan meminjam ke orang lain. Biasanya kalau selama ini ada perlu apa-apa masih bisa cash bon di perusahaan. Sekarang tak bisa lagi, untung saja masih ada yang mau minjamin uang,” ujar Nurleli.

Lain Nurleli, lain pula nasib Ahmad Rizal, karyawan perusahaan swasta yang bergerak di bisnis online ini. Rizal ternyata sudah tiga bulan tidak menerima gaji dari perusahaannya. Rizal mengaku sampai saat ini dirinya belum mengadukan hal ini kepada Dinas Tenaga Kerja walaupun ada aturan yang mengatur hal itu. Nasib seperti Rizal, juga dialami karyawan lainnya di perusahaan tersebut, terutama yang sudah berada di level tertentu.

Menurut Rizal, dirinya masih mencoba memahami kondisi sulit yang dialami perusahaan tempatnya bekerja. Hanya saja, Rizal mengaku dirinya kesulitan memenuhi kebutuhan hidup dan juga melunasi tunggakan kredit kendaraannya.

“Mau tidak mau saya harus memahami kondisi perusahaan yang saat ini sedang sulit. Namun masalahnya, pihak dealer tak mau tau dengan kondisi yang saya alami. Minggu lalu, motor saya harus saya relakan ditarik dealer karena sudah nunggak tiga bulan. Apa boleh buat karena saya lebih memilih mempertahankan rumah dari motor,” jelas Rizal yang mengaku juga membeli rumah dengan cara kredit, sementara sang istri tidak bekerja.

Rizal mengaku, sampai saat ini belum menemukan solusi untuk kembali bisa menebus motornya. Sehingga, untuk ke kantor, ia harus naik kendaraan umum yang juga memerlukan biaya tambahan yang besar.

“Ini memang serba salah. Ke kantor saya terpaksa naik angkot. Mau cari uang untuk nebus motor saya yang ditarik dealer belum dapat. Itu pun untuk bayar angsuran rumah dan biaya hidup sehari-hari, saya sudah minjam sana-sini, gali lubang tutup lubang,” ujar Rizal.

Tragisnya lagi, akibat gaji yang sudah tiga bulan tak lagi masuk ke rekeningnya, Rizal terpaksa memakai jurus yang baginya memalukan. Istri dan dua anaknya sekarang diungsikan ke rumah mertua walaupun itu atas permintaan mertuanya.

“Sedihnya lagi, sekarang kami tinggal di rumah mertua karena anak saya sekolah tidak jauh dari rumah mertua sehinga bisa lebih irit biaya. Ya, numpang makanlah ceritanya kepada mertua. Apa boleh buat, walaupun terpaksa dan memalukan,” ujar Rizal lirih sambil mengatakan bahwa mertuanya seorang pegawai negeri sipil di salah satu instansi di Pemprov Riau.

Menarik lagi, ternyata Rizal pernah menawarkan agar perusahaan melakukan pemutusan hubungan kerja. Namun ternyata hal ini kendala tersendiri bagi perusahaan karena harus membayar tunai semua beban biaya kepada karyawan sebagai dampak PHK tersebut. Sebab, tersendatnya pembayaran gaji selama ini, disebabkan ketidakmampuan keuangan perusahaan.

Selain Rizal dan Nurleli, masih ada sejumlah karyawan perusahaan lainnya yang mengaku gajinya tersendat sejak beberapa bulan terakhir. Untung saja para karyawan ini masih bisa memahami apa yang sedang terjadi di perusahaan tempat mereka bekerja.Pertanyaannya, sampai kapan para karyawan ini akan mampu bertahan? Sementara, di luar sana berbagai keperluan hidup memerlukan pembiayaan yang tunai. Pada akhirnya, bagi perusahaan tempat mereka bekerja, hal ini akan menjadi api dalam gambut yang sulit dideteksi dan dipadamkan.Apa yang terjadi di Riau, sebenarnya juga terjadi di daerah lain dan perusahaan lainnya. Bahkan, tidak sedikit perusahaan yang harus mengambil langkah PHK karyawan untuk menghindari terjadinya penumpukan utang gaji yang pada akhirnya akan membebani perusahaan.Seperti beberapa perusahaan besar di bidang otomotif dan elektronik, justru memilih hengkang dari Indonesia sebagai dampak buruknya perkembangan bisnis mereka. Mau tidak mau, keputusan ini berdampak langsung kepada karyawan yang harus menerima di-PHK.

Apa tanggapan Anda?

argumen pembaca

Klik untuk berkomentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas