Internasional

Percobaan Pembunuhan tak Membuat Presiden Filipina Gentar Kepada Pelaku Kejahatan

Duterte berpose dengan senjata otomatis
Duterte berpose sambil menenteng senapan otomatis. Simbol perang terhadap kejahatan. Foto: (Via atimes.com)

MANILA – Percobaan pembunuhan kepada Presiden Filipina, Rodrigo Duterte baru-baru saja terjadi. Beberapa jam sebelum bom meledak di Kota Davao, Filipina, aparat kepolisian setempat menggagalkan rencana pembunuhan terhadap presiden. Dua orang tersangka yang diamankan diketahui menggunakan senjata otomatis kiriman dari Amerika Serikat (AS).

Dilansir dari monitorday.com, Sabtu (3/9/2016), kepada wartawan, Kepala Polisi Nasional Filipina, Jenderal Polisi Ronald Dela Rosa mengatakan, bagian-bagian senjata yang dikirim dari AS disita pada 6 Agustus 2016 di Bacolod City, Filipina. Bagian-bagian senjata itu, kata dia, akan dirakit para tersangka untuk digunakan membunuh Presiden Duterte.

Dua tersangka yang mengimpor senjata itu adalah Bryan Ta-ala dan Wilford Palma. Mereka telah ditangkap saat penggerebekan yang dilakukan polisi. Menurut Dela Rosa, kedua tersangka bersedia bekerja sama dalam penyelidikan polisi soal rencana pembunuhan terhadap Duterte.

Palma, lanjut Dela Rosa, mengatakan kepada penyelidik bahwa impor bagian-bagian senjata itu atas perintah “klien”  untuk membunuh Presiden Duterte.

Bagian-bagian senjata AS itu senilai 4,5 juta Peso. Jika bagian-bagian itu rampung dirakit, maka akan menjadi 100 unit senapan M16. Kedua tersangka dituduh melanggar Undang-Undang Republik Nomor 10591 tentang Senjata Api dan Amunisi.

Juru bicara Presiden Duterte, Ernesto Abella, mengatakan bahwa Duterte sangat menyadari adanya rencana pembunuhan itu. Menurutnya, Duterte prihatin tapi tidak khawatir.

“Dia memakan ancaman (kematian) untuk sarapan. Artinya, itu bukan sesuatu yang baru baginya,” kata Abella, seperti dikutip Philstar, kemarin.

“Ini berdiri sangat heroik, karena dia benar-benar mengerti bahwa ada panggilan untuk perang di beberapa bidang, yang sedang dijalani adalah perang melawan narkoba, perang melawan terorisme dan perang terhadap bentuk kejahatan lain,” pungkasnya.

Sikap keras Duterte  mengobarkan perang terhadap kejahatan di beberapa bidang  tampaknya membuat pelaku kejahatan gerah dan mulai melakukan upaya balas dendam. Sebelum terpilih menjadi presiden, Duterte memang mengkampanyekan perang melawan narkoba, terorisme dan kejahatan lain.

Tak tanggung-tangung, sang presiden bahkan memberikan hadiah uang mulai dari ribuan hingga jutaan Peso kepada warganya yang berhasil membunuh pelaku kejahatan narkoba. Reaksi pelaku kejahatan yang ingin meghabisinya, tak membuat gentar presiden yang berjuluk “the punisher” alias penghukum tersebut.

Editor : Anjar

Apa tanggapan Anda?

argumen pembaca

Klik untuk berkomentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas