Kepulauan Meranti

Siswa SMP Pencoret Bendera di Selatpanjang Tetap akan Diproses

Puluhan siswa SMP di Selatpanjang yang diamankan saat melakukan konvoi perayaan kelulusan dibina di halaman belakang Polres Kepulauan Meranti, Kamis (11/6/2015) siang.
Puluhan siswa SMP di Selatpanjang yang diamankan saat melakukan konvoi perayaan kelulusan dibina di halaman belakang Polres Kepulauan Meranti, Kamis (11/6/2015) siang.

Puluhan siswa SMP di Selatpanjang yang diamankan saat melakukan konvoi perayaan kelulusan dibina di halaman belakang Polres Kepulauan Meranti, Kamis (11/6/2015) siang. (Foto: Dok. Goriau.com)

SELATPANJANG – Kepolisian Resor (Polres) Kepulauan Meranti melakukan pembinaan terhadap 28 siswa SMP yang kedapatan melakukan konvoi dan mengganggu ketertiban umum serta melanggar peraturan lalu lintas pada Rabu (10/6) kemarin. Namun pelaku pencoret bendera merah putih tetap akan diproses secara hukum.

Kasar Reskrim Polres Kepulauan Meranti AKP Antoni L Gaol SH MH menjelaskan, pelaku pencoret bendera akan menjalani proses hukum karena dinilai telah merendahkan simbol Negara. Siswanya, hanya akan dibina.

“Mereka kita minta membuat surat pernyataan yang harus ditandatangani oleh yang bersangkutan, orangtua dan guru. Selain itu harus menulis di buku yang sudah kita sediakan,” jelasnya.

Baca: Memalukan, Siswa SMP di Meranti Coret Bendera Merah Putih Rayakan Kelulusan

Puluhan siswa yang diamankan kembali dipanggil ke Mapolres Kepulauan Meranti siang ini, Kamis (11/6). Guru dan orangtua siswa juga hadir dalam pembinaan tersebut.

Tak hanya itu, dalam kegiatan ini juga tampak perwakilan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kepulauan Meranti, Kantor Pemberdayaan Perempuan, Anak dan Keluarga Berencana serta Forum Anak.

Kapolres Kepulauan Meranti AKBP Zahwani Pandra Arsyad SH, M.Si menyebutkan, ada beberapa UU yang dilanggar oleh para siswa, seperti UU No. 24  Tahun 2009 tentang bendera, bahasa dan lambang  Negara serta lagu kebangsaan di mana terdapat ancaman sanksi penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp 500 juta.

Selain itu UU No. 22 Tahun 2009 tentang lalu lintas di mana rata-rata dari 13 sepeda motor yang terjaring tidak satu pun pengendara yang mengantongi Surat Izin Mengemudi (SIM). Untuk pelanggaran ini pelaku diancam denda Rp 1 juta dengan kurungan penjara paling lama 4 bulan.

“Kalau saya tidak sayang sama kalian, sudah saya masukkan kalian ke rumah tahanan yang baru siap dibangun itu. Karena perbuatan kalian sungguh-sungguh melanggar undang-undang,” papar Pandra.

Pembinaan para siswa ini berjalan baik. Mereka diminta menuliskan kalimat penyesalan dan komitmen pada sebuah buku yang telah disediakan. Buku tersebut harus terisi penuh dan ditandatangani oleh siswa, guru dan orangtua.

Sumber: Goriau.com

Apa tanggapan Anda?

argumen pembaca

Klik untuk berkomentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas