Pekanbaru

Keren! SMAN 4 Pekanbaru Sandang Sekolah Literasi Nasional, Baru 2 Sekolah di Sumatra

kepsek sman 4 pku di studio rri.1
Hj. Nurhafni M.Pd saat dialog interaktif di RRI Pekanbaru. Foto: (rri.co.id)

PEKANBARU – Rasanya masyarakat Riau juga patut berbangga dengan apa yang dicapai Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 4 Pekanbaru ini. Dipimpin oleh Hj. Nurhafni M.Pd, yang meraih kepala sekolah berprestasi nasional terbaik III pada November 2015 lalu, SMAN 4 kini dipercayai oleh Kementerian Pendidikan Nasional dan Kebudayaan sebagai sekolah literasi nasional.

Hal itu dijelaskan Nurhafni kepada Radio Republik Indonesia (RRI), usai dialog interaktif di RRI Pekanbaru, Rabu (3/8/2016) pagi.

Nurhafni menjelaskan, untuk wilayah sumatera hanya dua sekolah yakni SMAN 4 dan satu lagi SMAN yang ada di Provinsi Aceh. selebihnya, sekolah yang ada dipulau Jawa, NTT, dan Sulawesi.

“Prestasi ini luar biasa, hanya 13 sekolah se Indonesia yang dipercayai menjadi sekolah literasi nasional salah satunya SMAN 4 Pekanbaru,” ungkapnya.

Menurutnya, pihaknya merasa bangga atas raihan SMAN 4 sebagai sekolah literasi nasional. Dimana literasi yang dicanangkan Kemdikbud ini guna membiasakan sekaligus memotivasi siswa membaca dan menulis dengan tujuan akhirnya menumbuhkembangkan budi pekerti sang anak.

“Jadi untuk literasi yang dipercayakan pusat sebagai pilot projek baru 13 sekolah se Indonesia salah satunya ya SMAN 4 ini dan kita sudah dipanggil pihak Kemendikbud tanggal 7 dan 8 Desember lalu di Kemeterian,” ujarnya.

Disampaikan, gerakan literasi di SMAN 4, sudah dimulai berapa tahun lalu, dimana sebelum jam belajar setiap hari Selasa, Rabu dan Kamis, siswa wajib membaca Al-Quran selama 15 menit dan dilanjutkan membaca buku selama 15 menit. Setelah tamat membaca, siswa diharuskan membuat resume dan diserahkan kepada wali kelas.

“Untuk itu, sekolah dipercaya sebagai sekolah literasi. Tidak hanya itu, kepada siswa yang tamat membaca buku dan menghasilkan banyak resume, maka sekolah akan memberikan penghargaan kepada siswa. Ini salah satu cara sekolah untuk menumbuhkan gerakan membaca bagi siswa di Riau,” jelasnya.

Gerakan membaca di sekolah, partisipasi orang tua juga sangat membatu dalam menyumbang buku kepada sekolah. Sehingga buku-buku budi pekerti, buku sejarah, cerita rakyat, dongeng, buku tokoh nasional yang bisa membangkitkan siswa meraih prestasi.

“Jadi, orang tua juga seyogianya ikut berpartisipasi dalam mencanangkan sekolah berliterasi skala nasional,” terang kepsek berprestasi ini menutup pembicaraan.

Sebagai informasi, literasi yang didefinisikan oleh Trini Haryanti, seorang pustakawan nasional adalah keberaksaraan, yaitu kemampuan menulis dan membaca.

Budaya literasi dimaksudkan untuk melakukan kebiasaan berfikir yang diikuti oleh sebuah proses membaca, menulis yang pada akhirnya apa yang dilakukan dalam sebuah proses kegiatan tersebut akan menciptakan karya.

Melihat baru 13 sekolah se-Indonesia yang menjadi sekolah literasi nasional, ini tentu masih sangat memprihatinkan, dimana terlihat masih minimnya budaya menulis dan membaca bagi anak didik di Indonesia.

Pemerintah, khususnya sekolah tentu diharapkan terus mendorong siswa-siswinya menjadikan menulis dan membaca menjadi sebuah kebiasaan . Jika telah terbiasa, pada akhirnya akan jadi budaya, karena kemampuan tersebut mampu menghasilkan kemajuan dan kecerdasan  bagi bangsa Indonesia.

EDITOR : ANJAR
SUMBER : rri.co.id

Apa tanggapan Anda?

argumen pembaca

Klik untuk berkomentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas