Advert To Riau

Workshop Pemanfaatan ICT dalam SCL FKIP Unri Hadirkan Narasumber dari Dirjen Belmawa

PEKANBARU(18/8/2018)– Sosialisasi dan workshop pemamfaatan ICT (Information and Communication Technology) dalam SCL (Student Centered Learning) memasuki revolusi industry 4.0, yang diselenggarakan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Riau (FKIP Unri) menghadirkan dosen Universitas Indonesia Drs Gatot Fatwanto Hertono MSc PhD atas nama Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Dirjen Belmawa) sebagai narasumber.

Turut hadir dalam kegiatan ini Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Riau yang diwakili Wakil Dekan I Bidang Akademik FKIP Unri Dr Zul Irfan MSi, Koordinator Prodi Kimia Abdullah SSi MSi, Koordinator Prodi Biologi Dr Evi Suryawati MPd, Koordinator Prodi Matematika Dr Kartini MSi, Koordinator Prodi PPKn Sri Erlinda SIP MSi, Koordinator Penjaskesrek Aref Vai SPd MPd, para Sekretaris Jurusan dan dosen utusan masing-masing Prodi di lingkungan FKIP Unri.

Ketua Panitia Peningkatan Kualitas Pembelajaran melalui Pembelajaran Berpusat pada Mahasiswa memasuki Revolusi Industri 4.0 (PKP-PBMRI) FKIP Unri Dr Maria Erna MSi melaporkan, kegiatan sosisalisasi ini merupakan satu dari empat kegiatan hibah yang didanai oleh Belmawa Dikti dan disupport oleh FKIP Unri.

“Kegiatan ini bertujuan menggabungkan antara pembelajaran berpusat pada mahasiswa dengan memamfaatkan ICT berbasis lesson study for learning community (LSLC) untuk meningkatkan kualitas pembelajaran memasuki revolusi 4.0,“ tambah Koordinator S2 Pendidikan Kimia FKIP Unri ini.

Lebih lanjut Maria Erna mengatakan dengan program hibah ini, hendaknya dapat menghasilkan produk inovatif pembelajaran baik itu mengenai model maupun metode pembelajaran yang efektif untuk digunakan di FKIP Unri, dan diharapkan juga mampu menghasilkan artikel ilmiah yang dapat diseminarkan maupun dipublikasikan di jurnal nasional maupun Internasional.

Drs Gatot Fatwanto Hertono MSc PhD mengatakan pengalamannya dalam mengelola pemamfaatan ICT di Universitas Indonesia (UI), ada tiga hal/aspek yang harus dipenuhi; pertama penyiapan SDM baik dosen maupun mahasiswanya melalui pelatihan/workshop. Perlu dipersiapkan untuk bisa lebih memamfaatkan ICT dalam pembelajaran. Kedua, perlu dukungan infrastruktur dan fasilitas sarana dan prasarana, jangan sampai dosen dan mahasiswanya telah siap tetapi ketika mereka mau menggunakan mungkin fasilitas kurang mendukung atau kurang memadai. Misalnya bandwidthnya masih kecil akhirnya mahasiswa dan dosen  enggan  meneruskan kegiatan-kegiatan yang berbasis ICT.

Ketiga, dari aspek tata kelolanya baik dari sisi penjaminan mutunya maupun aplikasi anak didiknya juga perlu disiapkan, karena pembelajaran berbasis ICT atau TIK ini perlu dibuatkan komponen atau instrument khusus untuk mengukur penjaminan mutu ke dalam penerapan pembelajaran berbasis ICT.

Lebih lanjut Gatot Fatwanto mengatakan, untuk peningkatan kualitas proses belajar di perguruan tinggi, Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Dirjen Belmawa) menyelenggarakan program hibah PKP-PBMRI bertujuan untuk penguatan pendidikan karakter, penekanan pendekatan pembelajaran berpusat pada mahasiswa, membangun komunitas belajar sepanjang hayat, mewadahi karakteristik mahasiswa generasi milenial dan post milenial, pendekatan pembelajaran multidisipliner, pemanfaatan TIK dalam pembelajaran, serta peningkatan kemampuan abad 21 (keterampilan berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, kreatifitas, IT literacy, cross culture understanding, problem solving, self-directed learning.

“Salah satu tujuan dari hibah PKP-PBMRI tersebut lebih mendorong atau menstimulasi perguruan tinggi untuk lebih memamfaatkan TIK dalam pembelajaran, terutama untuk menghadapi revolusi teknologi yang muncul atau dikenal dengan Revolusi 4.0. Kita harus lebih siap lagi dalam menghadapi era Revolusi 4.0 ini.“ ungkapnya.

Gatot menambahkan, hibah PKP-PBMRI salah satu keluarannya antara lain mempublikasikan hasilnya dalam bentuk seminar atau konferensi. Hasil pengembangan modulnya tersebut pada saat di publikasikan, di konferens atau diseminarkan akan bisa diketahui oleh masyarakat luas.

Dengan munculnya berbagai model pembelajaran di Unri, dampaknya Unri sendiri akan lebih bisa menawarkan atau membuka program-program pendidikan jarak jauh yang bisa diikuti oleh masyarakat luas dengan model-model pembelajaran yang diterapkan dan disesuaikan dengan pendidikan jarak jauh. Pada akhirnya masyarakat juga tahu bahwa Unri juga sudah siap dalam penyelenggaraan PJJ (Pendidikan Jarak Jauh) yang bisa diikuti masyarakat luas.

Di akhir pemaparannya Gatot mengharapkan kepada para dosen agar lebih memahami. Untuk menghadapi dan mengantisipasi revolusi industri 4.0 ini, hendaknya para dosen lebih banyak memaparkan ICT dalam pembelajaran dalam bentuk penerapan SCL yang berbasis TIK dengan berbagai model-model yang diharapkan muncul dari Universitas Riau sendiri.

Apa tanggapan Anda?

argumen pembaca

Klik untuk berkomentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas