Headline Rohul

Hari Kebangkitan Nasional Momentum Membangkitkan Pendidikan Nasional

Salah seorang Dosen Universitas Pasirpengaraian (UPP), Hardianto yang saat ini menyelesaikan S3 Jurusan Manajemen Pendidikan di Universitas Negeri Jakarta (UNJ)
Salah seorang Dosen Universitas Pasirpengaraian (UPP), Hardianto yang saat ini menyelesaikan S3 Jurusan Manajemen Pendidikan di Universitas Negeri Jakarta (UNJ)

Salah seorang Dosen Universitas Pasirpengaraian (UPP), Hardianto yang saat ini menyelesaikan S3 Jurusan Manajemen Pendidikan di Universitas Negeri Jakarta (UNJ)

PASIRPENGARAIAN – Bertepatan 20 Mei setiap tahunnya selalu diperingati sebagai hari kebangkitan nasional. Peringatan hari kebangkitan nasional pada dasarnya tidak hanya berupa upacara peringatan saja, tetapi upaya nyata membangkitkan seluruh sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Salah satu fondasi yang mesti dibangun dengan kokoh adalah sektor pendidikan. Bangsa yang tidak membangun pendidikan dengan sungguh-sungguh niscaya akan hancur.

Pada tahun 60-an sampai 70-an Indonesia merupakan salah satu tempat tujuan peserta didik dari negara tetangga untuk melanjutkan pendidikannya. Banyak pelajar atau mahasiswa dari Malaysia, Brunai dan beberapa negara lain yang menuntut ilmu di Indonesia. Akan tetapi pada saat ini justeru banyak mahasiswa Indonesia yang menuntut ilmu ke negara tetangga dengan alasan kualitas dan beberapa alasan lainnya. Oleh karena itu perlu dibangkitkan kembali untuk membangun pendidikan dan menciptakan pendidikan yang bermutu.

Salah seorang Dosen Universitas Pasirpengaraian (UPP), Hardianto yang saat ini menyelesaikan S3 Jurusan Manajemen Pendidikan di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) kepada Riauposting.com, Sabtu (20/5/2017) menjelaskan, Pendidikan merupakan modal utama untuk mewujudkan kemajuan. Investasi dalam bidang pendidikan mesti selalu ditingkatkan. Untuk mewujudkan sumber daya manusia yang handal, maka pengurusan pendidikan (formal, informal dan nonformal) harus dilakukan secara optimal.

“ Komitmen pemerintah pusat, pemerintah daerah, para penyelenggara pendidikan dan masyarakat sangat dibutuhkan untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas. Salah satu komitmen yang sangat penting adalah penganggaran pendidikan minimal 20% dari APBN/ APBD. Karena sampai saat ini sangat sedikit pemerintah daerah baik daerah tingkat I maupun Tingkat II yang telah mengalokasi 20% anggaran daerah untuk sektor pendidikan,” tutur Hardianto.

Lanjutnya, dilembaga pendidikan, kantor dinas pendidikan atau topi sekolah selalu menemukan tulisan Tut Wuri Handayani. Namun harus ingat pada dasarnya Ki Hadjar Dewantara membuat semboyan yang lengkap yaitu Ing Ngarso Sun Tulodo, Ing Madyo Mbangun Karso dan Tut Wuri Handayani. Harusnya tiga semboyan itu jangan dipisah-pisahkan. Karena seseorang tidak harus berada di belakang, tetapi bisa di depan maupun di samping.

“ Pada saat ini untuk membentuk karakter manusia Indonesia yang mantap, guru tidak boleh hanya mendorong tetapi mencontohkan dan membimbing peserta didiknya. Siswa juga tidak boleh hanya berada di belakang, tetapi harus mampu memberi contoh dan membangun semangat diantara sesama siswa. Saya mengusulkan agar tiga semboyan itu dituliskan lengkap dalam logo pendidikan Indonesia,” jelasnya.

Kebangkitan pendidikan juga dapat dilakukan dengan menciptakan suasana menyenangkan peserta didik di sekolah. Secara konseptual telah sama-sama mengetahui bahwa PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan) harus diterapkan. Akan tetapi secara aplikatif ini belum terlaksana dengan baik. Masih banyak peserta didik yang bolos sekolah, tidak betah di sekolah, sangat gembira jika ada libur dan sebagainya. Upaya membuat sekolah yang menyenangkan dapat dilakukan oleh guru dengan membangun kedekatan dengan siswa dan responsif terhadap permasalahan siswa. Penyediaan sarana prasarana belajar yang memadai juga bisa dilakukan untuk mewujudkan suasana akademik yang menyenangkan.

“ Selaku orang tua juga mesti bersama-sama bangkit untuk berkontribusi memajukan pendidikan. Ikut serta dalam upaya pengawasan waktu belajar anak dan menyediakan waktu untuk berdiskusi dengan anak. Membangun kepercayaan diri anak sejak dini dengan memantau perkembangannya. Menjadi pelopor dalam gerakan orang tua peduli pendidikan. Kalau dulu ketika anak pulang sekolah sering terdengar pertanyaan orang tua “dapat nilai berapa hari ini nak?” dapat diganti dengan “pelajaran apa yang didapatkan hari ini nak?,” ujarnya.

Selanjutnya, Hardianto mengatakan, masyarakat juga diharapkan bangkit untuk berkontribusi memajukan pendidikan. Pendidikan non-formal yang diterima anak di tengah masyarakat sangat mewarnai perilaku mereka. Masyarakat harus peduli terhadap pendidikan. Apabila ada anak yang melakukan tindakan negatif siapa saja orang dewasa yang melihatnya harus menghentikan tindakan itu. Setiap dusun atau desa bisa membangun taman bacaan, rumah pintar atau sejenisnya sehingga anak-anak dapat belajar sambil bermain di taman bacaan atau rumah pintar tersebut.

“ Investasi yang kita tanam dalam pendidikan memang tidak bisa dipetik hasilnya dalam waktu yang singkat. Tetapi ketika pendidikan tidak di urus dengan serius, kemunduran dan kehancuran pasti akan kita temukan. Setiap kita mesti berperan, sekecil apapun kontribusi yang diberikan akan membantu membangkitkan kembali pendidikan kita,” tutur Dosen UPP yang tampan ini.

Apa tanggapan Anda?

argumen pembaca

Klik untuk berkomentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas