Religi

Suami Istri Tidak Puasa Karena Musafir dan Berhubungan Intim di Siang Hari, Apa Hukumnya?

mudik motor.01
ilustrasi mudik sepeda motor. Foto: (net)

TAK terasa, Ramadan menuju penghujung bulan. Merujuk kalender Masehi, tinggal sebelas hari dari hari ini umat muslim di Indonesia berpuasa. Menjelang hari raya Idul Fitri, umat islam semakin disibukan dengan berbagai aktifitas menyongsong hari kemenangan itu.

Namun kesibukan menyongsong hari nan fitri sepertinya tidak lagi dibarengi dengan intensitas ibadah yang semakin sibuk pula. Masjid-masjid mulai ‘lega’ dari kepadatan jamaah yang melaksanakan ibadah sholat Tarawih. Ramainya masjid mulai digantikan dengan ramainya pusat perbelanjaan dan kesibukan lain mempersiapkan lebaran.

Inilah Indonesia, meski tercatat sebagai negara dengan mayoritas muslim terbesar di dunia, tetapi sebagai manusia tentu tak luput dari berbagai kekurangan.

Indonesia kaya akan tradisi dan khasanah budaya bangsa. Bagi umat Islam khususnya, ada tradisi menarik di bulan Ramadan ini, yaitu mudik sebelum hari raya Idul Fitri tiba. Bertemu kembali dengan sanak keluarga, karib kerabat, handai taulan dan teman-teman lama seakan memberi kebahagiaan tersendiri bagi yang melakukannya.

Karena menempuh perjalanan jauh ke kampung halamannya, para pemudik menjadi musafir dan sebagai musafir agama tidak mewajibkan kepadanya berpuasa.

Banyak orang bertanya, khusus bagi suami-istri yang sedang dalam perjalanan mudik dan tidak berpuasa, apakah dibolehkan berhubungan suami istri di siang hari dan apakah tetap terkena kafarat?

Dengan merujuk pada Rumah Fiqih Indonesia yang di ampu oleh Ustadz Ahmad Sarwat, Lc. Beliau menerangkan dengan begitu jelasnya.

Masalah ini menjadi perbedaan para ulama. Namun mazhab Asy-syafi’iyah dalam hal ini menyebutkan bahwa kaffarah itu adalah denda yang diakibatkan adanya unsur merusak puasa di siang hari bulan Ramadhan. Kalau unsur merusak puasa itu tidak terjadi, maka kaffarah pun tidak wajib dilakukan.

An-Nawawi (w. 676 H) salah satu ulama besar dalam mazhab Asy-syafi’iyah di dalam kitabnya Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab menuliskan sebagai berikut :

Bila seseorang membatalkan puasanya dengan makan atau cara lainnya, jadilah dia tidak puasa. Bila setelah batal itu dia berjima’ di siang hari, tidak ada kewajiban kaffarah atasnya.. Kaffarah itu diwajibkan karena adanya perusakan puasa dengan jima’. Dalam kasus ini jima’ yang dilakukan tidak merusak puasa.

Namun bila seseorang tanpa udzur yang syar’i merusak puasanya, misalnya dengan makan dan minum secara sengaja, maka tentu saja dia berdosa.

Sebaliknya bila seseorang di siang hari bulan Ramadhan mengalami sakit atau musafir, maka dia boleh tidak berpuasa. Karena udzur ini memang disebutkan secara terang di dalam Al-Quran. Kalau pada saat dia tidak berpuasa itu kemudian dia melakukan hubungan suami istri, maka hal itu tidak membatalkan puasa, karena posisinya memang sedang tidak puasa. Dia tetap wajib mengganti puasanya nanti seusai Ramadhan berakhir, namun tidak ada kewajiban membayar kaffarah.

Selain pendapat di atas, ada mazhab lain yang punya pandangan agak berbeda, dimana mereka mengatakan bahwa kaffarah itu terjadi bukan karena merusak puasa, melainkan karena merusak kehormatan bulan Ramadhan. Sehingga meski keduanya tidak berpuasa, tetap saja dilarang untuk melakukan jima’ dan terkena kaffarah.

*Artikel ini sudah tayang di Tribun Islam berjudul “Tatkala Suami Istri Tidak Puasa Karena Musafir, Kalau Jima Apa Tetap Kena Kaffarat?”
Editor : Anjar
SUMBER : tribunislam.com

Apa tanggapan Anda?

argumen pembaca

Klik untuk berkomentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas