Headline Rohul

Memberantas Maksiat Akademik

Salah seorang Dosen UPP yang saat ini menyelesaikan Pendidikan S3 jurusan Manajemen Pendidikan di UNJ, Hardianto
Salah seorang Dosen UPP yang saat ini menyelesaikan Pendidikan S3 jurusan Manajemen Pendidikan di UNJ, Hardianto

Salah seorang Dosen UPP yang saat ini menyelesaikan Pendidikan S3 jurusan Manajemen Pendidikan di UNJ, Hardianto

PASIRPENGARAIAN – Tulisan ini terinspirasi dari perkuliahan dengan Prof Bintang Sitepu, seorang guru besar di Universitas Negeri Jakarta. Beliau meminta kami untuk membaca tulisannya tentang maksiat akademik.
Salah seorang Dosen Universitas Pasir Pengaraian (UPP), Hardianto yang saat ini sedang menyelesaikan pendidikannya ditingkat perguruan tinggi di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) S3 jurusan Manajemen Pendidikan kepada Riauposting.com, Selasa (14/3/2017) mengatakan, setelah membaca tulisan tersebut, Hardianto (penulis) tersentak bahwa secara sadar mengaku maksiat akademik telah terjadi dan cenderung terus tumbuh. Dalam tulisannya, beliau menceritakan beberapa kasus yang tergolong maksiat akademik, diantaranya mahasiswa yang copy paste jawaban temannya dalam bahasa pendidikan lebih keren dengan istilah plagiat. Dengan alasan kesetiakawanan, peserta didik (mahasiswa) membuatkan jawaban temannya atau mengisi daftar hadir teman.
Selain itu, penulis juga melihat beberapa kasus yang pernah terjadi di sekolah atau kelas seperti guru yang mengkondisikan kelas saat pengawas datang melakukan pengawasan atau supervisi dengan harapan pembelajaran yang dilakukannya dinilai baik oleh pengawas. Ataupu guru yang menggunakan persiapan mengajar (silabus) dari guru lain tanpa memahami silabus yang digunakan dan lain sebagainya.
Maksiat akademik apabila dibiarkan akan terus menggerogoti tubuh pendidikan yang pada akhirnya akan menjadikan pendidikan tidak lagi memiliki makna. Maksiat akademik tidak hanya dapat terjadi di kota-kota, tapi juga terjadi di desa-desa. Maksiat akademik tidak hanya pada pendidikan tinggi, tapi juga pada pendidikan dasar dan menengah.
Tujuan pendidikan yang mencerdaskan anak bangsa akan berubah menjadi perusak bangsa dengan maksiat akademik yang merajalela. Oleh karena itu perlu peran semua pihak untuk segera “mengamputasi” makisat akademik agar tidak berkembang.
Menghentikan semua bentuk maksiat akademik dan mengembalikan pendidikan sebagai mana dicita-citakan tokoh pendidikan Ki Hadjar Dewantara.
Setidaknya ada empat cara yang bisa dilakukan untuk menghentikan maksiat akademik. Langkah ini mesti segera diambil dan dilaksanakan agar pendidikan berkontribusi positif terhadap kemajuan bangsa. pertama adalah membangun karakter peserta didik.
Peserta didik harus diajarkan menjadi pribadi yang tangguh, tidak cengeng, jujur dan mampu bekerja keras. Membangun karakter harus diawali sejak dini. Orang tua, guru dan masyarakat mesti selalu bekerja sama untuk membentuk kepribadian dan karakter peseta didik yang tangguh tersebut.
Cara kedua adalah merubah pola pendidikan yang mengutamakan nilai (angka-angka) ke pola yang mengutamakan skill atau pengetahuan dan sikap. Saat ini peserta didik dari mulai dari tingkat dasar, menengah sampai tinggi terlalu berorientasi kepada angka atau nilai yang bersifat kuantitatif. Kebanyakan mereka akan senang ketika memperoleh nilai baik dari pada memperoleh pemahaman baru. Maka apabila ada guru ataupun dosen yang melaksanakan pembelajaran asal-asalan tapi memberikan nilai yang bagus biasanya akan sangat disenangi oleh peserta didik dibandingkan guru yang penuh dengan tugas dan beban belajar lainnya.
Ketiga adalah dengan menjadikan guru sebagai sosok yang disukai dan disegani bukan sosok yang ditakuti. Guru yang ditakuti oleh peserta didik akan menjadikan peserta didik melakukan segala cara agar terhindar dari masalah dengan guru tersebut. Ini akan menjadikan peserta didik terkadang menghalalkan segala cara walau melakukan maksiat akademik agar tidak berurusan dengan guru yang ditakuti itu.
Secara sederhana guru yang disukai dapat dilihat ketika telah memenuhi empat kompetensi dasar seorang guru.
Cara yang keempat adalah memfilter informasi, tontonan dan teknologi yang dapat memicu maksiat akademik.
Kemajuan teknologi menjadikan peserta didik semakin malas belajar. Banyak informasi yang bersifat hoax atau kebohongan yang dapat memicu maksiat akademik. Banyak tontonan yang tidak mendidik seperti belajar yang dilakukan asal-asalan juga bisa mendatangkan kesuksesan. Ataupun teknologi yang salah digunakan sehingga belajar tidak lagi menjadi kebutuhan peserta didik melainkan sebagai beban.
Marilah kita semua mengambil peranan untuk menghilangkan maksiat akademik sesuai dengan peran kita masing-masing. Kita sebagai dosen, guru, orangtua siswa, pimpinan sekolah, pimpinan daerah maupun masyarakat untuk sama-sama berkontribusi memberantas maksiat akademik. Hari ini yang perlu kita jawab adalah, apa kontribusi yang saya lakukan untuk memajukan pendidikan?

Apa tanggapan Anda?

argumen pembaca

Klik untuk berkomentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas