Nasional

Dapatkah Hujan di Pancing dengan Baskom Berisi Air Garam?

Simulasi proses hujan
Simulasi proses hujan

Simulasi proses hujan. Ilustrasi: (2.bp.blogspot.com)

JAKARTA – Ramainya pesan berantai berisi ajakan cara memancing hujan menggunakan baskom berisi air garam kembali marak beredar di masyarakat.

Isi pesan tersebut; “Sediakan baskom air yang dicampur garam dan diletakkan diluar, biarkan menguap, jam penguapan air yang baik adalah sekitar pukul 11.00 s.d jam 13.00, dengan makin banyak uap air di udara semakin mempercepat Kondensasi menjadi butir air pada suhu yang makin dingin di udara. Lakukan ini satu rumah cukup 1 ember air garam, lakukan secara serempak.. Mari kita sama2 berusaha untuk menghadapi kabut asap yg kian parah ini..,”

Pesan berantai ajakan cara memancing hujan menggunakan baskom berisi air garam ini bukanlah hal baru, tahun lalu saat kemarau panjang dan kabut asap melanda beberapa wilayah di Indonesia, pesan seperti ini juga marak beredar ke masyarakat yang disampaikan melalui sms, Blackberry Masanger (BBM), maupun media sosial lain seperti facebook dan twitter.

Menanggapi hal tersebut, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) memberi penjelasan soal cara memancing hujan menggunakan baskom berisi air garam. BPPT menegaskan menciptakan hujan bukan sesederhana itu.

Menurut peneliti Meteorologi Tropis BPPT Tri Handoko Seto dalam keterangannya, Sabtu (12/9/2015), sebagaimana di lansir dari sumateratoday.com, cara-cara memancing hujan dengan menempatkan garam dalam baskom atau ember dan diletakkan di luar rumah saat keaadaan panas, sehingga garam dan air menguap, sangat kecil kemungkinan terjadi hujan.

“Dengan 1 ember air tiap rumah dan ajakan ratusan ribu rumah, berharap ada jutaan meter kubik uap air. Maka diperlukan ratusan juta ember untuk mendapatkan jutaan meter kubik air. Itu pun jika semua air yang ditempatkan di ember menguap semua. Dan dipastikan tidak akan mungkin,” kata Tri Handoko Seto.

Dikatakan dia, hujan bukanlah mekanisme mikro seperti itu. Perlu banyak persyaratan agar terbentuk awan hujan. Selain penguapan yang sangat banyak, juga perlu pola angin tertentu yang mengarahkan uap air sehingga terjadi kondensasi di suatu wilayah.

“Tentu saja ini terkait dengan kondisi cuaca skala luas. Keberadaan gunung bisa saja mengakibatkan terbentuknya awan, tetapi untuk menjadi hujan juga perlu lingkungan yang mendukung,” lanjutnya.

Pada saat ini, air laut di sekitaran Jambi, Sumsel dan Riau tetap menguap airnya. Namun pola angin mengakibatkan uap air tertarik ke utara dan timur laut. Sehingga awan terbentuk di wilayah utara dan timur laut wilayah Indonesia.

Namun bukan tidak mungkin tiba-tiba terjadi perubahan pola angin pada skala yang lebih kecil sehingga terbentuk awan. Tim BPPT telah siaga untuk menyemai awan yang mungkim tumbuh agar bisa menjadi hujan.

Bagi Tri, yang terpenting saat ini kita harus bisa menjaga agar jangan ada lagi pembakaran lahan maupun hutan di saat kemarau. Jika melihat pelaku kebakaran, langsung laporkan ke pihak berwajib. Atau kita juga bisa saja bergabung ke dalam gerakan-gerakan pemadaman kebakaran hutan dan lahan.

Apa tanggapan Anda?

argumen pembaca

Klik untuk berkomentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas